Kondisi kawasan timur Indonesia masih tetap jalan ditempat tidak mengalami perubahan yang berarti bahkan sangat memprihatinkan jika dibandingkan dengan kawasan Barat Indonesia. Meski pemimpin dan rezim ke rezim sejak orba sampai reformasi sudah silih berganti.
Padahal menurut Ketua Perhimpunan Indonesia Timur, Petrus Selestinus kawasan timur Indonesia terdapat beberapa provinsi merupakan wilayah darat dan laut yang berbatasan langsung dengan beberapa negara asing tetangga seperti Kalimantan dengan Malaysia, NTT dengan Timor Leste dan Australia, Papua dengan PNG, Sulawesi Utara dengan Filipina, Nangroe Aceh Darusalam dengan India.
Belum lagi terdapat 52 pulau kecil terluar dari 92 kepulauan terkecil terluar di Indonesia sedang menghadapi problem kepunahan karena berbagai sebab, sehingga semakin menambah beban persoalan yang menyulitkan posisi ekonomi masyarakat kawasan Timur Indonesia.
"Membangun Indonesia dari pinggir sangat mendesak karena bagian pinggir itu serambi dan wajah bangsa.
Sementara persoalan ketimpangan pembangunan kawasan timur Indonesia disebabkan oleh minimnya infrakstruktur sosial ekonomi yang secara fisik dan sosial ekonomi sangat kontras dengan masyarakat di negara tetangga, sehingga dampak psiko sosialnya adalah masyarakat di pinggir atau perbatasan menjadi bangsa yang teremehkan," kata Petrus, kepada wartawan, Rabu (13/8).
Sementara itu tokoh Indonesia Timur lainnya, Basa Alim Tualeka menjelaskan, kondisi sosial ekonomi sebagaimana dikemukakan diatas juga disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang lebih fragmatis jangka pendek, persepsi terhadap Indonesia lebih dipengaruhi oleh basis penduduk mayoritas, bukan basis wilayah; pengambil kebijakan yang didominasi oleh politisi kepentingan berbasis populasi mayoritas, nasionalisme sempit dalam orientasi pragmatis.
"Karena itu percepatan kawasan perbatasan harus dilakukan dengan memobilisasi sumber daya pendukung seperti anggaran khusus untuk pembangunan infrastruktur sosial ekonomi di darea dari APBN. Juga mendorong partisipasi swasta untuk mengembangkan potensi wilayah perbatasan dan mempersuasi pihak BUMN mengalokasikan dana CRS untuk pembangunan kawasan perbatasan," ujarnya.
Untuk itu, Presiden terpilih dalam menyusun kabinetnya harus diisi oleh putra terbaik profesional dari Indonesia Timur yaitu Kementerian Daerah Tertinggal, Kelautan dan Maritim, Parawisata, Pertambangan dan Energi.
Akhirnya Dr. Basa Alim Tualeka didorong oleh berbagai Organisasi Kemasyarakatan untuk menjadi putra terbaik kawasan timur Indonesia mengisi posisi di Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar